blh-sidak-lereng-ijen

SUARATIMUR (BANYUWANGI) : Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timut, Kamis (1/12/2016), melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kawasan Lereng Gunung Ijen, yang kini mulai terbuka menjadi areal pertanian. Padahal, sebelumnnya kawasan ini merupakan lahan perkebunan dengan tanaman kayu gmelina (jati putih, red.).

Sebelum sidak dilakukan rapat koordinasi di Kantor BLH, yang dipimpin Kepala BLH Banyuwangi, Husnul Chotimah, dengan melibatkan Camat Licin, dan staf Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perhutanan Banyuwangi.

Hasil rapat koordinasi itu, merekomendasikan untuk melakukan sidak bersama ke lahan HGU milik PT Lidjen yang berada di ketinggian antara 600 – 900 meter diatas permukaan laut (dpl).

‘’PT Lidjen sangat ceroboh dalam membuka kawasan resapan air itu. Masak ratusan hektar dibuka secara langsung, mestinya bertahap. Setelah lahan dibuka seharusnya langsung ditanami tanaman kebun, tidak boleh lama-lama dibiarkan terbuka. Apalagi hanya tanaman sayuran hingga beberapa kali musim,’’ papar Husnul Chotimah.

Karena itu, lanjut Husnul Chotimah, pihaknya segera memberikan teguran keras sekaitan pembukaan lahan perkebunan yang berada di lereng Ijen tersebut.

‘’Kami masih menunggu hasil sidak staf BLH bersama Dispertabunhut Banyuwangi sebagai bahan kami mengirim surat teguran kepada PT Lidjen,’’ tegasnya.

kondisi-lereng-ijen-2kondisi-lereng-ijen-1

Sementara itu hasil pantauan SUARATIMUR di lapangan, Kamis (1/12/2016), tim sidak BLH dan Dispertabunhut Banyuwangi, menemukan lahan perkebunan milik PT Lidjen telah berubah menjadi kawasan pertanian. Selain kentang, tanaman yang dibudidayakan petani penggarap adalah kubis, jagung, buncis, bawang daun dan tanaman sayur-sayuran lainnya.

Staf Dispertabunhut Banyuwangi juga mendapati bukti bila PT Lidjen belum melakukan penanaman kopi arabika yang rencananya sebagai pengganti kayu gmelina di kawasan tersebut. Petugas juga mendapati areal yang cukup landai dengan tanaman kentang yang digarap petani asal Sempol Bondowoso.

‘’Mudah-mudahan Senin (5/12/2016) depan sudah rampung surat teguran itu. Sabtu (3/12/2016), kami masih akan memanggil PT Lidjen,’’ ujar salah seorang staf BLH Banyuwangi.

Selain sebagai daerah resapan air PDAM Banyuwangi, kawasan lereng Ijen juga sangat berpotensi terjadinya erosi, karena kuntur tanahnya gembur dan berada di kemiringan rata-rata sangat ekstrem.

kondisi-lereng-ijen

Sebelumnya, Syarif Pamungkas, Kepala Keaman PT Lidjen, Banyuwangi ketika ditemui SUARATIMUR, Kamis (10/11/2016), membenarkan bila perusahaannya tengah melakukan perubahan komoditas perkebunan yang sebelumnya sebagai Hutan Tanaman Industri (HTI), dengan tanaman kayu gmelina, kini direncanakan untuk tanaman kopi arabika yang luas keseluruhannya mencapai 300 hektar dari 350 hektar luas lahan yang dibuka secara manual. Selain itu, pihaknya juga akan menanam durian jenis kane seluas 12 hektar.

‘’Tahap pertama pembukaan dengan sistem plasma dilakukan sekuas 200 hektar sekitar 7 bulan lalu. Kemudian saat ini sudah ada 300 hektar, dan total nantinya mencapai 350 hektar,’’ jelasnya.

Pada tahap pertama, lanjut Syarif, penanaman kopi arabika baru 24 hektar dengan 64 ribut bibit yang sudah siap ditanam awal tahun 2017. Selama sebelum ditanami, PT Lidjen mengijinkan ratusan petani plasma yang terlibat dalam pembukaan lahan untuk menanami tanaman pertanian yang diinginkannya tanpa uang sewa.

Syarif juga menambahkan bila PT Lidjen telah mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam ketika turun hujan deras secara ekstrem, yakni pembukaan lahan dilakukan secara manual sehingga membiarkan tonggak bekas tebangan pohon gemilina tidak dicabut sehingga masih bisa menyerap dan menahan air. Begitu pula dengan tidak digunakannya alat berat dimaksudkan untuk mencegah rusaknya kuntur tanah yang sangat gembur di kawasan lereng Gunung Ijen. (nur/ono/*)

LEAVE A REPLY