Kisah Pilu Mudaiyah : Warga Pantai Boom Terancam Digusur dan Derita Kanker Payudara

0
44

SUARATIMUR (BANYUWANGI) : Kisah pilu sejarah perjalanan hidup Mudaiyah yang akrab dipanggil Bu Mud, salah seorang warga Pantai Boom Banyuwangi Jawa Timur, ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga.

Wanita 48 tahun dengan dua anak tersebut akibat ujian hidup yang dijalani bersama dengan Idrus suami tercinta terlihat lebih tua dibandingkan dengan usianya. Sejak tahun 1979 pasangan suami istri itu bekerja sebagai pencari cacing laut (garek-red) dan tiram serta memungut sampah untuk mencukupi  hidupnhya dan menempati rumah tidak layak huni di sebelah timur Taman Makam Pahlawan (TMP) Angkatan Laut (AL) Pantai Boom yang pada jaman dahulu merupakan lahan pembuangan sampah.

bu-mudaiyah
Mudaiyah Warga Pantai Boom penderita kanker payudara

Ketenangan hidup dan kebahagiaan keluarga sederhana itu mulai terusik sejak ada informasi rencana relokasi warga Pantai Boom yang dilakukan PT Pelindo Properti Indonesia (PT. PPI) dan PT Pelindo III Tanjung Wangi Banyuwangi untuk membangun proyek prestisius Marina Boom Banyuwangi yang menelan anggaran sekitar Rp.720  Milyar.

Mudaiyah bersama sang suami Idrus menyadari rumah yang ditempati saat ini bukan miliknya dan mereka hanya menumpang yang harus rela mengembalikan lahan yang ditempati apabila pemilik membutuhkannya.

Namun dengan situasi dan kondisi ekonomi yang sulit ini, Bu Mud berharap PT Pelindo dan PT PPI memberikan sejengkal tanah untuk melanjutkan kehidupan bagi keluarganya bersama puluhan warga Boom lain yang sudah puluhan tahun akrab dan menggantungkan hidup dan mata pencahariannya dengan mengais rezeki di kawasan Boom sebagai pencari tiram, pencari cacing, pemulung, kuli angkut pelabuhan dan berbagai macam pekerjaan lain yang lekat dengan nuansa pantai.

Sejak mendengar informasi rumahnya akan digusur, Bu Mud menjalani kehidupanya diliputi ketidak berdayaan dan kepasrahan yang bercampur dengan rasa takut, bingung dan was-was serta rasa tidak nyaman lainya.”Dimana nanti kami harus tinggal , kemana kami harus pergi?,” pertanyaan itu muncul setiap saat usai rasa lelah dan penat mulai hilang sehabis bekerja.

Memikirkan ketidak pastian yang dialami Bu Mud sering merasa pusing apalagi sejak PT Pelindo dan PT PPI melayangkan Surat Peringatan (SP) Ketiga yang meminta warga secepatnya mengosongkan lahan.

Karena tidak memiliki dana yang cukup untuk berobat Bu Mud yang jatuh sakit diantar suami tercinta berobat kepada salah satu petugas kesehatan di Karangrejo Banyuwangi. Penderitaan wanita asal Jajag terasa semakin bertambah berat setelah didiagnlosa menderita kanker payudara dan harus segera dioperasi.

Sebenarnya rasa sakit tersebut sudah lama dialami, namun karena tuntutan keadaan memaksa Bu Mud untuk membantu suami bekerja. Sudah satu minggu lebih dalam kondisi sakit parah menyebabkan dia tidak bisa menemani dan membantu suami untuk bekerja dan menambah penghasilan untuk memperoleh seteguk air dan sesuap nasi.

Untuk bisa memenuhi biaya pengobatan yang layak, apalagi operasi untuk menyembuhkan penyakit kanker payudaranya, merupakan mimpi bagi keluarga Bu Mud yang menggantungkan penghasilan dari mencari cacing dan memulung rongsokan di sekitar kawasan Pantai Boom.

Mimpi dan harapan Bu Mud untuk mengobati penyakitnya muncul setelah Tuhan mengutus beberapa orang  yang masih memiliki hati, perasaan dan kepedulian untuk membantu mengurangi dan menghilangkan penderitaan orang-orang seperti Bu Mud yang lagi sakit dan terancam akan digusur dari rumahnya.(nur/ekos)

LEAVE A REPLY