15327284_10211760484235524_487525357544969465_n

SUARATIMUR (JEMBER) : Besarnya resiko sebuah peristiwa bencana alam, terkadang karena kelalaian kita yang tidak mampu mengantisipasinya. Namun berbeda dengan warga yang bereada di lereng Gunung Argopuro, Jember, Jawa Timur.

Sekelompok petani kopi di lereng Gunung Argopuro Kecamatan Panti iti, rela mengeluarkan  biaya sendiri senilai ratusan juta rupiah untuk membangun jalur evakuasi bencana tanah longsor yang sangat berpeluang terjadi karena para petani kopi tersebut berada di kawasan paling rawan tanah longsor.

Tanah longsor dan banjir bandang 2 Januari 2006 lalu, yang sempat menenwaskan ratusan orang dan merusak kawasan kebun merupakan pengalaman pahit bagi warga Panti, Jember.

Peristiwa yang juga mengisolasi ratusan petani kopi di Desa Pakis dan Suci Kecamatan Panti itu menjadi pengalaman yang kemudian membuat mereka sadar untuk mengantisipasi kemungkinannya bila terjadi kembali.

15442228_10211760479755412_4460726761628356998_n

Tanpa bantuan sedikit pun dari berbagai pihak termasuk pemarintah, para petani kopi dengan kerelaan pribadi membangun jalur evakuasi bencana tanah longsor bila kemungkinan terjadi.

Tidak tanggung-tanggung, mereka membangun jembatan beton dengan kapasitas maksimal 40 ton setinggi empat meter dan panjang enam meter. Selain itu, akses jalan yang sebelumnya sangat berat dilalui motor kini mampu dilewati truk.

Jalan-jalan di kebun yang nyaris tidak bisa dilewati karena longsoran-longsoran kecil, kini terbuka lebar karena alat berat yang mereka beli sendiri, dan alat tersebut dioperasikan sendiri oleh petani kopi.

Menurut Suparjo, koordinator petani kopi, pembangunan jalur evakuasi ini dilakukan sepanjang tahun 2016 secara bertahap dan pelan karena terkait tehnis pengumpulan dana yang membutuhkan  waktu. ‘’Total biaya yang sudah terkumpul dan dikeluarkan oleh petani mencapai 370 juta rupiah lebih,’’ ungkap Suparjo.

15349789_10211760493315751_4094222666801994349_n

Terbukanya jalur evakuasi ini menurutnya, membuka keterisolasian para petani  kopi selama bertahun-tahun pasca  banjir bandang awal Januari 2006 lalu.

Bila situasi dinyatakan aman dari tanah longsor, maka jalan tersebut bisa dimanfaatkan untuk membantu petani dalam memproses produksi kopi.

Selain membuka akses, para petani kopi secara mandiri rutin membuat jalur – jalur pembuangan air yang berpotensi membuat longsornya tanah di kebun.

Eko Suryono

 

 

LEAVE A REPLY