Ke Jember, Dirtjen Hubud Matangkan Start Pengerjaan Fisik Bandara

0
69
Bupati Jember dr. Faida MMR saat memberikan pemaparan kepada Ditjen Hubud Agus Santoso

SUARATIMUR (JEMBER) Persiapan untuk menjadikan Bandara Jember sebagai Bandara Sub Embarkasi Haji dan Umroh serta menjadi Bandara Komersil terus dimatangkan, Sabtu (2/9/2017) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Agus Santoso kembali ke Jember, kedatangannya kali ini untuk melakukan persiapan awal terkait start pengerjaan fisik Bandara Notohadinegoro, Kabupaten Jember, awal 2018 mendatang.

Tanpa ditemani staf khususnya, Agus Santoso landing menggunakan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Notohadinegoro, Sabtu (2/9/2017), disambut Bupati Jember dr Hj Faida, MMR, dan sejumlah pejabat teras di lingkungan Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Jember.

Agus langsung melakukan pengecekan kondisi bangunan terminal bandara, dan fasilitas eksisting bandara saat ini selama beberapa jam. Selain itu juga memeriksa kondisi runway dan site plan pengembangan bandara.

Langkah itu sebagai progress lanjutan atas perintah Presiden RI, Joko Widodo, sekaligus mematangkan desain dan rencana pengerjaan fisik yang akan diawali pada awal tahun ini.

Kemenhub RI melakukan langkah percepatan terhadap perintah Presiden Jokowi – yang mengamanahkan agar Bandara Notohadinegoro segera dibangun menjadi Bandara Embarkasa Haji dan Umroh Antara. Untuk itu Agus Santoso, tercatat sudah tiga kali berkunjung ke Jember.

Kepada wartawan, Agus Santoso, mengatakan kunjungannya ke Jember adalah dalam rangka sekalian melakukan kroscek sebelum pengerjaan beberapa fasilitas sarana bandara dimulai, dan sekaligus melakukan pemantauan arus penumpang bandara paska Idul Adha dan akhir pekan ini di sejumlah Bandara, termasuk Juanda Surabaya.

“Kita sekaligus melakukan pemantauan arus di sejumlah bandara. Dan kami anggap masih dalam tataran aman,” ujarnya.

Katanya, program penembangan Bandara di Jember merupakan bagian dari Nawa Cita Presiden Jokowi, nomor 7. Sebelumnya, di tahun ke tiga ini Nawacita Jokowi, membangun dari pinggiran telah dimulai.

“Kami dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah membangun sejumlah Bandara–bandara di pinggiran, mulai dari Miangas, Pulau Rote, Anambas, dan bandara di daerah Papua telah digarap marathon serta dikembangkan. Itu adalah Nawacita membangun dari pinggiran,” tegasnya.

Memasuki tahun ke – 4 ini Presiden RI Jokowi, mengembangkan Nawa Cita ke-7 yakni merealisasikan pengembangan kemandirian ekonomi melalui pengembangan tempat – tempat strategis yang berpotensi ekonomi, salah satunya Jember.

Jember merupakan daerah potensial. Di sini merupakan sentral aktivitas penduduk di daratan Tapal Kuda. Selain penduduk sangat besar potensi ekonomi juga sangat baik, karena ada Pusat penelitian Nasional Kakao, dan Kopi, dan dekat dengan potensi wisata dunia Gunung Ijen, yang indah dan menarik.

“Ini yang membuat Jember dipilih sebagai daerah yang potensial secara wisata, dan culture. Karena memang Jember berisi malting culture antara suku Madura dan Mataraman, serta potensi wisata religi yang tinggi. Dan itu menjadikan kami dari Ditpostel Perhubungan Udara, akan membangun Bandar Udara Embarkasi Haji Antara,” ujarnya.

Dia tahu bahwa Bandara Jember adalah satu satunya Bandara yang dicreate (dibangun,red) secara purely (murni) dari Pemerintah Daerah sejak awal. Akhirnya, atas kebijakan Presiden Jokowi kemarin, akan dinaikkan menjadi Bandara Embarkasi Haji Antara.

“Untuk itu kami harus menata seluruhnya, baik konstruksi dan panjang runway (landasan,red) dari eksisting (yang ada,red) 1.705 meter dan bisa didarati pesawat jenis ATR saja dipanjangkan menjadi 2.500 meter. Sehingga pesawat jenis boeing, jet berbadan besar dan medium bisa landing di Jember,” ujarnya.

Pada 1 Januari 2018, telah dianggarkan untuk memperpanjang landasan menjadi 2.250 meter sebagai fase pertama. Dan membangun fasilitas lain. Fase ke – dua tahun 2019 meningkatkan panjang landasan menjadi 2.500.

“Lebar landasan juga ditambah, karena eksisting sekarang 30 dijadikan 45 meter dan diperkuat. Karena strength landasan belum memenuhi syarat saat ini untuk didarati pesawat bermesin jet kelas medium dan berbadan lebar,” ujarnya.

Terkait status tanah bandara nantinya menunggu hasil rapat dari Pemerintah Daerah bersama Kementerian BUMN yang akan dilakukan Bupati bersama BUMN.

Yang penting katanya, Bandara Jember seperti yang disarankan Presiden Jokowi, dikembangkan sehingga bisa menjadi services (melayani,red) jamaah haji dan umroh yang bisa langsung dari kota asal, Jember.

“Sehingga jamaah tak perlu repot – repot pergi ke Surabaya, dan Solo. Bandara nantinya cukup kuat menampung pesawat berbadan lebar selain Surabaya, Solo dan Jakarta. Hal itu tentu saja dalam rangka menjadikan masyarakat lebih mudah bisa terbang dari kampungnya, salah satunya di Jember ini sebagai salah satu yang digariskan Presiden Jokowi untuk memberi kemudahan bagi jamaah haji,” ujar Agus Santoso, yang sempat mencicipi suguhan barista Pendopo, berupa kopi asli Jember. (*)

LEAVE A REPLY