Fitri Akhirnya Nikah dengan WBP Lapas IIB Banyuwangi

0
10

SUARATIMUR (BANYUWANGI) – Bahor 46 tahun warga Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, akhirnya bersedia menjadi wali pernikahan Fitri Nur Aisyah 18 tahun yang dipersunting Lutfi Ainum Najib 20 tahun, warga Desa Sraten Kecamatan Cluring, yang kini mendekam jeruji Lapas IIB Banyuwangi.

Pernikahan antara Lutfi dengan Fitri sendiri, Rabu (3/1), sempat menjadi perhatian penghuni Lapas IIB Banyuwangi lantaran mempelai wanita sempat pingsan gara-gara pernikahan keduanya batal terlaksana karena Bahor sebagai orangtua laki-laki Fitri tidak hadir.

Namun kesedihan Fitri dan Ida Royani, ibunya langsung terobati ketika sang ayah ikut hadir dalam acara walimatul urusy yang berlangsung di ruang perpustakaan Lapas IIB Banyuwangi, Kamis (4/1) siang.

Pernikahan mereka berdua sendiri didasarkan atas Surat Pelaksanaan Nikah yang dikirimkan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Kantor Urusan Agama Kecamatan Cluring kepada Kepala Lapas IIB Banyuwangi, tertanggal 2 Januari 2018 dan yang ditandatangani Drs Sahid, MHI selaku Kepala KAU Kecamatan Cluring.

Berbeda dengan sehari sebelumnya yang terlihat tegang, suasana ruang perpustakaan Lapas IIB Banyuwangi kali ini lebih santai dan penuh kekeluargaan. Kedua mempelai berada berhadapan dengan penghulu dan Bahor, orangtua laki-laki Fitri.

Begitu prosesi akad nikah dinyatakan sah, kedua mempelai larut dalam kegembiraan. Mereka kemudian melakukan acara sungkeman kepada orangtua mereka.

Seperti diberitakan sebelumnya, akibat gagal menjalani akad nikah, Fitri Nur Aisyah 18 tahun, warga Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Rabu (3/1), siang, harus jatuh pingsan dan harus mendapat perawatan ringan di Klinik Lapas IIB Banyuwangi. Putri pasangan Ida Royani 38 tahun dengan Bahor 46 tahun, pingsan lantaran batal menjalani prosesi akad nikah bersama Lutfi Ainun Najib 20 tahun, salah seorang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Banyuwangi.

Sebenarnya, petugas Lapas IIB Banyuwangi sudah menyiapkan ruang perpustakaan sebagai tempat dilaksanakannya akad nikah antara Lutfi dengan Fitri. Namun tidak adanya persetujuan orang tua Fitri selaku wali nikah perempuan, sehingga pernikahan yang sudah dihadiri Ida Royani, ibu fitri dan adik-adik dari mempelai perempuan, pihak penghulu tidak berani melanjutkan pernikahan tersebut.

Ketidakan beranian pihak penghulu untuk menikahkan mempelai berdua sontak membuat Fitri menangis terseduh-seduh lantaran usia kandungannya sudah menginjak empat bulan. Sedang Lutfi asal Desa Sraten, Kecamatan Cluring sendiri harus menjalani kehidupan di dalam jeruji Lapas IIB Banyuwangi karena dilaporkan pihak keluarga karena dituduh telah menodai anggota keluarganya.

Puncak kesedihan Fitri ketika baru keluar ruang perpustakaan lapas, remaja putri yang hanya lulusan SMP ini langsung jatuh pingsan, sehingga membuat petugas lapas maupun tamu undangan yang sedianya menghadiri proses pernikahan itu, sibuk memberi pertolongan. Fitri kemudian dilarikan ke Klinik Lapas Banyuwangi guna mendapatkan perawatan ringan.

Bersyukur setelah 15 menit dirawat, Fitri kembali siuman. Ida Royani ketika ditanya, tidak kuasa menjawab dengan kata-kata. Yang ada hanya cucuran air mata dari kedua kelopak matanya. Sementara Lutfi yang melihat calon istri dan ibu anaknya siuman berusaha menenangkannya.

Lutfi mengaku tidak menyangka harus menjalani kehidupan jeruji Lapas Banyuwangi lantaran dianggap tidak bertanggungjawab atas kehamilan Fitri yang dikenali beberapa bulan lalu dan menjadi teman bermain.

Menurut Lutfi, setelah terjebak asmara buta dengan Fitri ia sempat pergi ke Surabaya untuk bekerja. Selama itu tidak ada kontak dari Fitri maupun keluarganya, bila wanita dekatnya sedang hamil muda. Yang lebih mengejutkan lagi bagi Lutfi begitu pulang ke rumahnya, dia sudah harus menjalani pemeriksaan kepolisian karena tuduhan yang seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Kepala Lapas IIB Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Ahyar,  Bc.IP, SH, MH, kepada wartawan, Rabu (3/1), membenarkan adanya peristiwa jatuh pingsannya mempelai wanita ketika batal nikah karena ketidakhadiran orangtua laki-laki mempelai wanita.

Pernikahan antara Lutfi, anggota WBP Lapas IIB Banyuwangi dengan Fitri merupakan proses akad nikah keempat selama dua bulan terakhir. Sebagai WBP berhak untuk menjalani pernikahan selama prosedurnya berlaku. Dan Lapas Banyuwangi selalu memfasilitasi dengan memanfaatkan ruang perpustakaan yang ada untuk tempat berlangsungnya akad nikah.

‘’Sebenarnya prosedur pernikahan antara Lutfi dengan Fitri sudah cukup dari KUA, hanya saja pihak wali perempuan tidak hadir sehingga penghulu tidak berani melanjutkan dan menunda,’’ jelasnya. (*)

LEAVE A REPLY