SUARATIMUR : Warga RT 01/RW 01 Lingkungan Krajan Pantai Boom, Kelurahan Mandar, Kecamatan Kota, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, masih berharap bisa bertahan di Kawasan Pantai Boom. Selain karena ketidaksiapan secara ekonomi untuk pindah, keengganan warga untuk direlokasi juga disebabkan karena alasan matapencaharian dan mahalnya harga lahan yang disiapkan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Bagi sekitar 133 KK yang mendiami lokasi bekas Taman Hiburan Rakyat (THR) di era tahun 1980-an itu, cukup berat bila direlokasi ke tempat yang baru. Pasalnya, mereka yang sudah turun menurun di lahan milik PT Pelindo III Banyuwangi selama puluhan tahun itu, harus bekerja apa. Selain sebagai PKL, warga juga hanya bekerja sebagai buruh, TKBM, pemulung dan pencari cacing laut.

Karena itu, kata Ketua RT01/RW01 Lingkungan Krajan Pantai Boom, Saknan kepada SUARATIMUR, Kamis (10/11/2016), warga tidak akan bersedia dipindahkan ke tempat lain selama PT Pelindo PropertI Indonesia (PPI) tidak memenuhi janjinya untuk membuatkan rumah susun, seperti dilontarkan Prasetyo, Dirut PT PPI dalam pertemuannya dengan lima orang perwakilan warga Pantai Boom di Hotel Slamet Banyuwangi tahun 2015, dengan disaksikan Lurah Mandar, Bambang Purwanto (alm) dan Lukas yang mewakili Camat Kota Banyuwangi.

“Warga memang sudah sepakati untuk meratakan rumahnya ketika rumah dinas PT Pelindo juga rata. Itupun belum cukup sebelum kami dibangunkan rumah susun untuk tempat tinggal kami. Seperti halnya ketika ada penggusuran-penggusuran di Jakarta,’’ ungkap Saknan.

Namun warga menjadi heran, lanjut Saknan, ketika kemudian warga diminta untuk pindah ke lokasi milik PT KAI yang ada di daerah Ketapang, Kalipuro, Banyuwangi. Selain jauh dan mahal, warga juga bakal kehilangan matapencahariannya.

“Kami selama ini menandatangani kontrak dengan PT Pelindo III, kenapa sekarang urusan pemindahan kami harus berususan dengan PT KAI. Kami terakhir tidak ditarik sewa PT Pelindo III tahun 2013,’’ paparnya.

Sedang menanggapi adanya pihak-pihak tertentu yang melakukan intimidasi, Saknan, membantahnya bila selama proses sosialisasi relokasi warga Pantai Boom, tidah pernah ada intimidasi baik dalam rapat maupun dari rumah ke rumah. Hanya saja, Saknan, menambahkan ada lembaga swadaya masyarakat yang mengutarakan kepada dirinya, berniat untuk menjembatani kepentingan warga dan PT PPI.

“Namun mereka tidak mengintimidasi kami. Datang ke kami untuk menjembatani kepentingan warga sehubungan dengan rencana relokasi itu,’’ tambahnya.

Tidak ada cara-cara intimidasi sekaitan rencana relokasi warga Pantai Boom, juga disampaikan Bu Ni, salah seorang warga setempat yang mengaku sudah tinggal di Pantai Boom selama 40 tahun.

Menurut Bu Ni yang sehari-harinya berjualan nasi itu, tidak pernah ada orang yang mengancam atau menakut-nakuti, apalagi itu namanya mengintimidasinya agar segera pindah dari Boom.

‘’Saya tidak mau pindah pak. Saya sudah puluhan tahun tinggal di sini. Anak yang saya lahirkan di Pantai Boom usianya sudah 30 tahun., dan cucu saya sudah dua,’’ ungkapnya lugu.

Sementara itu Plt Lurah Mandar, Kecamatan Kota Banyuwangi, Sigit Budi Wicaksono Ketika dikonfirmasi SUARATIMUR, Kamis (10/11.2016), juga membantah adanya tindakan intimidasi terhadap warganya yang tinggal di lingkungan Pantai Boom. Namun Sigit juga membenarkan adanya kehadiran LSM Rejowangi dalam setiap kali acara pertemuan antara warga dengan PT Pelindo, termasuk pertemuan ketiga yang dilakukan pihak PT KAI.

‘’Mereka hanya datang mendengarkan, namun setelah pertemuan saya tidak tahu. Tetapi saya tidak pernah mendapat laporan dari staf jika ada intimidasi terhadap warga,’’ tegasnya.

Sebagai kepala kelurahan, lanjut Sigit, pihaknya akan ikut memperjuangkan aspirasi warganya. Mereka harus diperlakukan manusiawi seandainya harus meninggalkan kawasan Pantai Boom. Sedang terkait surat undangan yang dilakukan pihak kelurahan, Sigit menjelaskan bila kebijakan itu semata-mata untuk kebaikan bersama, terlebih ada permintaan bantuan dari PT PPI kepada pihak kecamatan untuk mengkomunikasikan dengan warga setiap kali pertemuan digelar.

Pertemuan berikutnya, tambah Sigit, bila tidak ada perubahan akan digelar Senin (14/11.2016) mendatang di Kantor Pelindo III Tanjung Wangi. Dalam pertemuan itu, PT Pelindo III juga akan melibatkan PT KAI sebagai pemilik lahan yang diperuntukkan merelokasi warga Pantai Boom.

Hingga berita ini ditayang Jum’at (11/11/2016) pukul 09:00 WIB, pihak PT PPI Banyuwangi, belum bisa dimintai konfirmasinya. Dua nama masing-masing, Tantri dan Dono, ketika dihubungi telepon selulernya tidak aktif. Sehari sebelumnya Tantri ketika dihubungi SUARATIMUR, Kamis (10/11/2016), menjelaskan sedang rapat dan janji untuk dihubungi dua jam kemudian. Namun ketika telepon selulernya dihubungi, tidak aktif sampai berita ini ditayangkan.

Pewarta : Eko Suryono dan Nurhadi

Publish : Eko Suryono

LEAVE A REPLY