‘’Kami Tidak Mampu Menebus Sewa Lahan di Lokasi Baru, Apalagi Lokasinya Juga Jauh. Pekerjaan Kami Hanya Sebagai Pencari Cacing Laut dan Kerang’’ SUARATIMUR (Banyuwangi) : Ditengah gencarnya kegiatan sosialisasi yang dilakukan PT Pelindo Property Indonesia (PPI), PT PELINDO III Tanjung Wangi Banyuwangi dan PT Kereta Api Indonesia (KAI), yang dinyatakan berakhir secara sepihak, Senin (21/11/2016) lalu, ternyata tidak mampu mendengar jerit tangis puluhan warga RT01/RW01 Lingkungan Krajan Kelurahan Kampung Mandar, Banyuwangi, yang telah puluhan tahun mendiami Kawasan Pantai Boom, tepatnya di sebelah timur Taman Makam Pahlawan (TMP) Angkatan Laut (AL). Bagi mereka kehadiran PT PPI yang akan menyulap Pantai Boom yang selama ini terkesan kumuh untuk menjadi Kawasan Wisata Terpadu Boom Marina Banyuwangi, tidak ubahnya malapetaka. Apalagi para pemangku kebijakan proyek prestius yang akan menelan anggaran Rp 720 miliar itu, hanya berdalil masyarakat tidak punya hak untuk mendiami aset milik PT PELINDO III Tanjung Wangi Banyuwangi. Karena itu mereka menilai masyarakat tidak perlu berlama-lama berada di kawasan tersebut, terlebih setelah waktu yang diberikan kepada masyarakat untuk pindah sudah berakhir. Masyarakat hanya diberikan waktu hingga akhir bulan Desember 2016, yang pada awal bulan Desember ini PT PELINDO III Tanjung Wangi selaku pemilik lahan akan secara bertahap berkirim surat peringatan pertama, kedua dan ketiga. Bagi warga Pantai Boom, seperti Pak Idrus, Bu Untung dan Misati, yang selama belasan hingga puluhan tahun tinggal di tepian pesisir Pantai Boom, tidak ada niatan untuk mengambil lahan milik PT PELINDO III Tanjung Wangi. Mereka hanya ingin diperlakukan secara manusiawi kalaupun harus meninggalkan rumahnya yang ada di Pantai Boom. Selain belum pernah diberitahu lokasi yang bakal mereka tempati nanti, mereka juga mengungkapkan ketidakmampuannya bila harus mengeluarkan uang untuk lahan serta membangun sendiri tempat tinggal mereka. Menurut Pak Idrus, penghasilannya bersama istri sebagai pencari cacing laut sangat tidak mencukupi untuk dipakai biaya membangun rumah di lokasi baru. ‘’Jika nasib saya baik sehari maksimal hanya dapat Rp 15 ribu. Beruntung saya dapat beras raskin meskipun hanya 3 kg setiap bulannya dengan harga Rp 7 ribu,’’ ungkap Idrus. Karena itu harapan Pak Idrus bila PT PPI memiliki rasa kemanusian, tidak sekedar menyiapkan lahan untuk menampung mereka, tetapi juga membangunkan rumah bagi warga secara sederhana. ‘’Syukur-syukur tidak jauh dari Pantai Boom. Kami selama puluhan tahun sudah sangat bergantung di Pantai Boom sebagai pencari cacing laut,’’ jelasnya. Hal senada juga diungkapkan Bu Untung dan Bu Misati, yang tempat tinggalnya sangat tidak layak berada di tepian Pantai Boom. Kedua janda itu mengaku tidak bisa berbuat banyak menghadapi rencana relokasi yang dilaksanakan PT PELINDO III dan PT PPI. Karena itu, mereka berharap sangat nasibnya bisa diperjuangkan Ketua RT01/RW01 Lingkungan Krajan, Saknan, sebagai wakil mereka. Kedua janda yang sehari-harinya bekerja mencari kerang itu, mengaku penghasilannya sekitar Rp 12 ribu dari menjual keremis atau kerang di pasar. Mereka juga mengaku hanya mendapatkan jatah 3 kg beras raskin setiap bulannya. Sementara itu Ketua RT01/RW01 Lingkungan Krajan, Saknan ketika dikonfirmasi SUARA TIMUR, Rabu (30/11/2016), membenarkan bila sebagian besar warganya dari kalangan keluarga tidak mampu. Selain sebagai pencari cacing dan kerang, warganya juga ada yang bekerja sebagai pemulung, kuli angkut, kuli bangunan, dan PKL. Karena itu, kata Saknan, pemberian uang kerohiman sebesar Rp 2 juta per KK bagi warga yang bersedia meninggalkan kawasan Pantai Boom, sangat tidak manusiawi. ‘’Uang sebesar itu apa cukup untuk mendirikan rumah di lokasi yang baru? Bagaimana matapencaharian mereka bila lokasi itu sangat jauh Pantai Boom,’’ ungkap Saknan. Bahkan, lanjut Saknan, sejak dilakukan kegiatan sosialisasi rencana merelokasi warga dari Pantai Boom, pihaknya tidak pernah diberitahu lokasi yang akan ditempati mereka. ‘’Bagaimana PT PPI menganggap sosialisasi itu sudah selesai. Empat kali pertemuan yang digelar sangat tidak fair dan terbuka. Karena itu warga akan tetap bertahan di Pantai Boom, sampai ada solusi yang manusiawi bagi kami,’’ tegasnya. Menurut Saknan, warga berharap disediakan lahan yang tidak jauh dari Pantai Boom karena tidak ingin terputus dengan mata rantai pekerjaannya sebagai pencari cacing, kerang, pemulung, kuli angkut dan berjualan. Apalagi banyak dari anak-anak mereka sudah bersekolah di sini. ‘’Apakah pihak PT PPI memikirkan warga sampai serinci ini?,’’ tanya Saknan. Bahkan Pak Pras dari PT PPI, lanjut Saknan, pernah akan mengupayakan rumah susun bagi warga yang direlokasi. Namun niatan baik PT PPI yang mendapat respon warga justru semakin hari semakin memudar. Yang ada warga dengan uang kerohiman Rp 2 juta justru akan dipindahkan ke lokasi milik PT KAI yang ada di Ketapang. ‘’Tetapi dimana lokasi itu, warga tidak pernah diajak melihat langsung lokasi tersebut,’’ tambahnya. Belum jelasnya lokasi untuk menampung 133 KK warga Pantai Boom yang terkena program relokasi sekaitan rencana PT PPI membangun Boom Marina Banyuwangi itu, juga dibenarkan Nurilma Septanti, Supervisor Marketing PT PPI Banyuwangi. Ketika ditanya SUARA TIMUR, Selasa (29/11/2016), Nurilma Septanti, mengaku tidak tahu persis dimana lahan milik PT KAI yang dipersiapkan untuk relokasi warga Pantai Boom. Tanti demikian panggilan akrabnya, menyarankan SUARA TIMUR untuk mengkonfirmasikannya ke PT PELINDO III Tanjung Wangi dan PT KAI. Hal yang sama juga dikatakan Mareta, Humas PT PELINDO III Tanjung Wangi Banyuwangi ketika dikonfirmasi SUARA TIMUR, Selasa (29/11/2016), mengaku belum tahu persis dimana lahan milik PT KAI yang akan digunakan untuk merelokasi warga Pantai Boom. ’’Segera kami tanyakan ke pihak PT KAI, dimana lokasi itu,’’ ujarnya. Mareta juga menjelaskan besaran uang kerohiman yang akan diberikan kepada warga Pantai Boom sebesar Rp 2 juta per KK. Tidak itu saja, tambah Mareta, PT PELINDO III Tanjung Wangi Banyuwangi dan PT PPI yang akan merelokasi warga juga menyiapkan kendaraan untuk mengangkut barang milik warga. Namun ketika ditanya dimana lokasi persisnya lahan milik PT KAI tersebut, Mareta, tidak juga mampu menjawabnya. Warga Pantai Boom, kata Mareta, tidak ada alasan untuk menuntut lebih dari uang kerohiman. Pasalnya, selama ini warga sudah menempati lahan milik PT PELINDO III Tanjung Wangi secara gratis. Bahkan, pihaknya sudah cukup toleran dalam memberikan uang kerohiman. Pada tahun 2013 lalu, pihaknya mencatat warga yang menyewa lahan di Pantai Boom hanya 33 KK, tetapi dengan segala pertimbangan pihaknya mengakomodir 133 KK yang berhak menerima uang kerohiman. ‘’Warga harus segera pindah. Hari ini (Selasa, red.), PT PELINDO III tengah menyelesaikan pembuatan surat peringatan pertama yang berbatas waktu hingga 6 Desember. Jika belum juga pindah, kami akan membuat surat peringatan kedua. Dan selanjut hingga surat peringatan ketiga,’’ paparnya. Untuk merelokasi warga ini, PT PELINDO III tidak sendiri tetapi bersama-sama PT PPI. Jadi tidak benar jika kegiatan relokasi hanya dilakukan PT PELINDO III. Bahkan, pihaknya juga melibatkan PT KAI selaku pemilik lahan yang akan ditempati warga Pantai Boom. (nur/ono/*)

polres-01