Atasi Over Kapasitas Lapas IIB Banyuwangi Diusulkan Berlantai Dua

0
68
Kepala Lapas Kelas IIB Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achjar, Bc.IP, SH, MH
Kepala Lapas Kelas IIB Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achjar, Bc.IP, SH, MH

SUARATIMUR (BANYUWANGI) – Belum adanya kejelasan hibah tanah dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sekaitan lahan yang diperuntukan bagi pengembangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banyuwangi, mendorong Lapas Kelas IIB tersebut mengajukan usulan kepada Kementerian Hukum dan HAM untuk dilakukan rehabilitasi menjadi lantai 2.

Pasalnya, selama puluhan tahun Lapas Kelas IIB Banyuwangi mengalami over kapasitas penghuninya hingga 300 persen lebih. Akibatnya, pelayanan terhadap narapidana maupun tahanan yang ada tidak bisa berjalan secara maksimal. Selain itu banyaknya penghuni yang melebihi daya tampung lapas ini juga berpotensinya terjadi kerawanan sosial maupun kriminal karena tidak maksimalnya pengawasan.

Sebenarnya, menurut Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achjar, Bc.IP, SH, MH, Sabtu (23/12), sesuai standar Hak Azasi Manusia (HAM), lembaga pemasyarakatan yang dipimpinnya hanya layak dihuni 250 orang, namun pada kenyataannya Lapas Kelas IIB Banyuwangi berpenghuni sebanyak 843 orang. Dengan rincian sebanyak 363 orang narapidana dan 480 orang tahanan.

‘’Karena itu kami sebenarnya telah mengusulkan rehabilitasi pembangunan Lapas Banyuwangi pada tahun 2017. Hanya saja karena keterbatasan waktu pengerjaan proyek yang rencananya dibiayai lewat dana APBN-P, dimana waktu yang tersedia hanya 3 bulan sehingga tidak ada perusahaan atau rekanan yang mampu mengerjakan. Sehingga proyek senilai kurang lebih Rp 45 milyar itu ditarik kembali ke pusat untuk membiayai pembangunan Lapas baru, Rubasan, dan Bapas,’’ jlentreh Akbar kepada wartawan seusai acara syukuran pindahan Kantor Memo Timur Biro Banyuwangi dari Jalan Agus Salim ke Kawasan Ruko Perumahan Elit Mendut Regency, Sabtu malam.

Untuk itu, tambah Akbar, pihaknya telah kembali mengusulkan rehabilitas pembangunan Lapas Kelas IIB Banyuwangi pada tahun 2018 mendatang dengan nilai kurang lebih Rp 40 milyar. ‘’Anggaran sebesar ini untuk pembangunan fasilitas sel tahanan berlantai 2 dan perkantoran,’’ jelas.

Dengan berlantai dua, tambah Akbar, kapasitas Lapas IIB Banyuwangi mampu menampung sedikit 1.000 orang, sehingga sudah sesuai dengan standar HAM

Saat ini untuk menyiasati kejenuhan penghuni Lapas IIB Banyuwangi, tambah Akbar, pihaknya melakukan rotasi penghuni ke lapas yang lain disesuaikan dengan status hukuman narapidana yang bersangkutan. Selain itu, pihaknya juga melibatkan secara aktif seluruh penghuni yang ada, baik yang narapidana maupun tahanan dalam berbagai kegiatan mulai dari keagamaan,  kerajinan hingga kegiatan kesenian, musik hadrah dan musik kendang kempul.

Sementara guna membantu pengawasan, menurut Akbar, lembaganya mendapatkan bantuan scenner 3 D  dan Closed Circuit Television (CCTV) dari Direktur Jenderal (Dirjen) Pemasyarakatan pusat. Bantuan peralatan canggih ini, dimaksudkan untuk penguatan pengawasan terhadap Warga Binaan (WBP),  utamanya untuk keamanan,  mencegah dan menanggulangi pemakaian narkoba dan pemakaian Handphone di dalam lapas.

Pria murah senyum itu menambahkan, untuk memudahkan kerja petugas Lapas Banyuwangi, perangkat teknologi tersebut bisa dikoneksikan dengan smartphone milik semua pejabat dan petugas Lapas.

“CCTV dikoneksikan dengan smartphone milik pejabat Lapas Banyuwangi sehingga dimanapun mereka berada bisa melakukan kontrol dan pengawasan terhadap warga binaan maupun petugas yang tengah menjalankan tugas,”jelas pria kelahiran Banyuwangi itu.

Sedang untuk Scenner 3 D, akan direncakan ditempatkan di pintu utama Lapas. Rencananya untuk menempatkan X-ray /scenner 3D pihaknya akan membongkar salah satu ruangan didekat pintu utama agar arus keluar masuk pengunjung yang datang ke Lapas bisa aman lancar dan nyaman. (*)

LEAVE A REPLY