DKP Banyuwangi Galakkan Budidya Lele Kolam Bioflok

0
33
Kepala DKPBanyuwangi, Hari Cahyo Purnomo bersama Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Banyuwangi, Suryono Bintang Samudera tengah mencermati perkembangan budidaya lele kolom bioflok yang ada di kantor setempat. (istimewa)
Kepala DKPBanyuwangi, Hari Cahyo Purnomo bersama Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Banyuwangi, Suryono Bintang Samudera tengah mencermati perkembangan budidaya lele kolom bioflok yang ada di kantor setempat. (foto:istimewa)

SUARATIMUR.NET(Banyuwangi) : Dinas Perikanan dan Pangan (DKP) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus menggiatkan program budidaya lele dengan kolam bioflok guna menunjang Gerakan Masyakarat Pangan Mina Lestari Menuju Ekowisata (Gema Pamili).

Kepala DKP Banyuwangi, Hari Cahyo Purnomo, sejak Januari 2017, DKP telah mencanangkan 100 ribu kolam. Dan target tersebut harus dicapai dalam kurun waktu empat tahun mendatang. Sampai Agustus 2017 setidaknya sudah ada 15 ribu kolam ikan yang dibudidayakan oleh warga Bumi Blambangan. Kolam itu milik perseorangan maupun kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 20 orang dan telah berbadan hukum.

“Kami ingin membuat suatu terobosan sederhana, menarik dan potensial berupa kolam bioflok. Kolam plastik yang didalamnya bisa diisi beberapa jenis ikan. Sementara ikan yang dibudidayakan ikan lele,” jelas Hari kepada SUARATIMUR.NET, Rabu (23/8/2017).

Kolam ikan model bioflok, lanjut Hari, lebih menjanjikan karena menggunakan kontruksi besi yang dirancang berbentuk lingkaran. Dinding kolam berasal dari terpal khusus anti bocor. Bentuk ini digadang-gadang aman bagi ikan dan bisa didapat dengan dana yang relatif murah. Budidaya ikan menggunakan kolam biofox juga diadakan di Kantor DKP Banyuwangi. Di sini terdapat 4 kolam ukuran diameter 1,5 meter.

“Untuk kolam dengan diameter 1,5 meter bisa dibeli Rp 1,3 juta.  Kapasitasnya bisa diisi 1 kuintal bibit lele atau setara dengan 1500 ekor. Masa panennya antara 50-75 hari,” tambahnya.

 Ada juga kolam jenis serupa dengan diameter 3 meter. Daya tampungnya tentu saja dua kalilipat dari kolam ukuran kecil. Kelebihan kolam bioflok bisa ditaruh di halaman rumah atau pekarangan. Sistem budidaya ikan melalui sistem ini bahkan lebih irit air karena tidak perlu terlalu sering mengganti.

“Di wilayah Muncar air limbah kolam ikan biofox dimanfaatkan untuk pupuk organik. Malah limbah itu diperjualbelikan oleh kelompok budidaya kepada petani,” lontarnya dengan semangat.

Urusan penjualan tidak perlu risau. Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Banyuwangi, Suryono Bintang, akan membantu petani budidaya ikan binaan DKP dalam soal pemasaran. Banyuwangi yang saat ini menjadi destinasi wisata menumbuhkan usaha kuliner yang berkaitan dengan ikan.

“Jangan kuatir, kita siap mencarikan pembeli. Kebetulan beberapa pedagang dan pengepul ikan dari lokal maupun luar Banyuwangi telah menjalin kemitraan,” terangnya.

Selain budidaya ikan, DKP juga gencar mendorong masyakarat nelayan untuk mengembangkan potensi daerah pesisir. Misalnya dengan jalan pelestarian penyu, mangrove maupun terumbu karang. Nelayan yang semula tergabung dalam kelompok usaha bersama (KUB) didorong untuk menjadi kelompok masyakarat pengawas (Pokmaswas). Jika berkaitan dengan pariwisata maka akan diarahkan pembinaannya dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. (*)

Andika Apriyanto/*ONO

LEAVE A REPLY