Geliat Muntaha, Petani Kopi Gombengsari

0
112
Muntaha tengah memeriksa tanaman kopinya yang berada di belakang rumahnya
Muntaha tengah memeriksa tanaman kopinya yang berada di belakang rumahnya

SUARATIMUR.NET(BANYUWANGI) – Perkembangan kepariwisataan Banyuwangi, Jawa Timur, yang cukup signifikan dalam lima tahun terakhir, tidak saja menempatkan daerah paling timur Pulau Jawa itu sebagai destinasi wisata yang diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional. Namun laju wisatawan ke kota berjuluk Sunrise of Java ini, ternyata juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakatnya.

Salah satunya dirasakan masyarakat lereng Gunung Ijen yang berada di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Masyarakatnya yang mayoritas sebagai petani kopi tersebut, sebelumnnya menjual hasil budidaya kopi robusta dan eselsanya dalam bentuk biji mentah yang harganya sangat murah. Tetapi setelah Kelurahan Gombengsari ditetapkan sebagai kawasan agrowisata, masyarakatnya cenderung mengolah hasil panen kebun kopinya dalam bentuk olahan.

Muntaha 52 tahun, warga Lingkungan Kacanganasri Kelurahan Gombengsari adalah salah seorang warga yang mulai merasakan dampak positif kemajuan pariwisata Banyuwangi. Laki-laki yang mengaku berkebun kopi sejak usia remaja itu merupakan petani yang kini mulai menggeliat setelah selama puluhan tahun menjual kopi hasil panenan kebunnya dalam bentuk biji.produk-unggulan

Menurutnya, sebelum banyak wisatawan berkunjung ke sini banyak petani kopi yang menjual dalam bentuk biji mentah. Tetapi, sekarang petani mulai melirik pasar yang menjanjikan dengan mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi yang nilai ekonominya jauh lebih tinggi.

Bahkan, Muntaha kini memiliki kedai kopi yang diberinya nama KASELA yang merupakan singkatan dari nama Kacangan Asri Selalu Langgeng. Nama ini juga ia gunakan sebagai nama produk kopi bubuk olahannya.

Sedang beragam jenis kopi bubuk olahan KASELA, antara lain, Kopi Luwak Arabika dan Robusta, Kopi Lanang, Kopi Arabika Original, Kopi Robusta original, Kopi Konuga Robusta, Kopi Excelsa, Green Coffee, dan Kopi Jambe Nom Spesial laki-laki.

Sejak mengolah sendiri biji kopi menjadi bubuk kemasan, Muntaha mengakui penghasilannya bisa berlipat dibanding menjual biji mentah. Biji kopi kering mentah hanya dihargai antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kilonya. Tetapi bubuk kopi olahannya, lanjut Muntaha, bisa dihargai jauh lebih tinggi tergantung dari jenis kopinya.

Adapun harga kopi bubuk KASELA adalah Kopi Lanang harganya Rp 150 ribu per kilo, Kopi Excelsa Rp 175 ribu, Kopi Arabika Rp 200 ribu, Green Coffee Rp 250 ribu, Kopi Luwak Robusta Rp 500 ribu dan Kopi Luwak Arabika Rp 750 ribu per kilo.

Selain menjual kiloan, kata Muntaha, pihaknya juga menjual kemasan dalam ukuran 100 gram Kopi Robusta Rp 10.000,-; 100 gram Kopi Lanang Rp 15.000,-; 100 gram Kopi Arabika Rp 20.000,-; 100 gram Kopi Arabika Lanang Rp 25.000,-; 150 gram Kopi Luwak Robusta Rp 75.000,-; 100 gram Kopi Luwak Arabika Rp 75.000,-; 250 gram Green Coffee Rp 90.000,-; dan 100 gram Kopi Excelsa Rp 175.000,-. Dari beberapa jenis kopi bubuk olahannya yang paling diminati adalah Kopi Lanang dan Kopi Jambe Nom.

Saat ini wilayah pemasaran produk kopi bubuknya, selain Banyuwangi, juga mulai merambah sejumlah kota di tanah air, seperti Pekan Baru, Denpasar, Malang, Gresik dan Kediri. (*)

Eko Suryono

LEAVE A REPLY