PP, NU, Forsuba dan FPUI Dukung Penahanan Budi Bego

0
85

Pemuda Pancasila, Nadlatul Ulama, LSM Forsuba dan FPUI Banyuwangi mendukung sepenuhnya langkah Kejari Banyuwangi menahan Budi Bego yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara spanduk dengan logo mirip palu arit PKIPemuda Pancasila, Nadlatul Ulama, LSM Forsuba dan FPUI Banyuwangi mendukung sepenuhnya langkah Kejari Banyuwangi menahan Budi Bego yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara spanduk dengan logo mirip palu arit PKI.

SUARATIMUR.NET(BANYUWANG) – Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila bersama Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (NU), LSM Forsuba dan Forum Peduli Umat Indonesia (FPUI) Banyuwangi, Kamis (07/09/2017), menyatakan dukungannya terhadap langkah Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, dengan menahan Heri Budiawan alias Budi Pego, koordinator aksi tolak tambang emas, yang diduga pihak yang paling bertanggungjawab dalam pembentangan spanduk berlogokan mirip palu arit dalam asksi tolak tambang beberapa waktu lalu.

Mereka menilai koordinator demo yang membentangkan spanduk ada gambar logo mirip palu arit Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang oleh pemerintah di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, adalah orang yang paling bertanggung jawab.

“Kita mendukung langkah Kejaksaan menahan Budi Pego, selaku Koordinator demo palu arit. Karena foto dan video sudah jelas,” tegas Ketua MPC PP Banyuwangi, Eko Suryono, dihadapan awak media, Kamis (07/09/2017).

Dalam konferensi pers yang digelar disalah satu rumah makan di Kota Banyuwangi, mereka juga menolak adanya isu kriminalisasi terhadap penahanan Budi Pego. Dijelaskan, demo tolak tambang emas dan membawa spanduk berlogo palu arit adalah dua hal yang berbeda. Demo atau menyampaikan aspirasi di depan umum adalah hak setiap warga negara. Namun, mengibarkan gambar mirip lambang PKI adalah tindakan melanggar hukum.

“Jadi jangan dicampur aduk, dan masyarakat harus memahami itu, jangan sampai ikut arus. Sejarah jelas mencatat, kalau adu domba, menghasut dan menebarkan isu sesat adalah keahlian dari PKI,” imbuh Wakil Ketua PCNU Banyuwangi, H Nanang Nur Ahmadi.

Dalam kesempatan ini, Ketua FPUI, Kiai Abdul Hanan menyampaikan pengalaman hidupnya di era G30SPKI. Dia mengaku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang Komunis.

“Karena itu, saya sedikit pun tidak terima jika ada oknum atau kelompok yang dengan sengaja atau tidak mengibarkan logo palu arit. Dan saya mendukung langkah Kejaksaan menahan Koordinator demo,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Forsuba yang juga sesepuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bumi Blambangan, H Abdillah Rafsanjani, menegaskan bahwa pengibaran logo palu arit adalah sebuah kejahatan. Karena logo tersebut adalah lambang musuh negara dan musuh seluruh masyarakat Indonesia.”Jangan main-main dengan logo palu arit, Banyuwangi, pernah terluka,” katanya.

Terkait kekejaman PKI, lanjut Abdillah 60 orang lebih kader GP Ansor telah menjadi korban kekejaman laten komunis pada 18 Oktober 1965. Mereka dibantai di Dusun Cemetuk, Desa Cluring, Kecamatan Cluring. Untuk mengenang dan sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, dilokasi tersebut didirikan monumen yang terawat hingga saat ini.

Seperti diketahui, pada 4 April 2017 lalu, Budi Pego bersama para pendukungnya menggelar demo di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Dalam demo itu, muncul spanduk bergambar mirip lambang Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah melalui berbagai proses akhirnya polisi mengirimkan berkas penyidikan kepada kejaksaan negeri Banyuwangi. Kemudian pihak Kejaksaan melakukan pemanggilan dan langsung melakukan penahanan terhadap tersangka Budi Pego, Senin (04/09/2017) lalu. (*)

Nurhadi/*ONO

 

LEAVE A REPLY