Raih Empat Emas Di Kejurda, Gulat Kembali Bidik Kejurprov

0
26
Para atlet gulat Banyuwangi tengah berlatih menghadapi Kejurprov Gulat di Malang, 9 Nopember 2017
Para atlet gulat Banyuwangi tengah berlatih menghadapi Kejurprov Gulat di Malang, 9 Nopember 2017

SUARATIMUR.NET(BANYUWANGI) – Usai menggondol 13 medali di Kejurda Gulat di Lumajang, Jawa Timur, Minggu (13/8/2017) lalu, Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Banyuwangi kembali mempersiapkan atletnya untuk turun di Kejurprov Gulat Piala Walikota Malang, 9 November mendatang. Kali ini PGSI Banyuwangi ingin membalas kekalahan mereka atas perolehan medali pada Kejurda sebelumnya.

Sekretaris PGSI Banyuwangi, Karyawanto, Senin (28/08/2017), mengatakan jika prestasi Banyuwangi di kejurda gulat sebelumnya berada di posisi ke empat, di bawah Kota Surabaya, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Malang. Dengan perolehan Banyuwangi  yang meliputi empat emas, lima perak dan empat perunggu. Sedang Surabaya memperoleh sembilan emas, tujuh perak dan empat perunggu.

“Di kejurda kemarin kita turunkan 15 atlet. Yang 13 dapat medali. Tapi perolehan kita masih terpaut jauh dengan Kabupaten Malang dan Kota Surabaya. Karena itu kita targetkan bisa meraih lebih baik medali di Kejurpov besok,” ujar Karyawanto.

Atas prestasi itu, rencananya empat atlet yang memperoleh emas di Kejurda Lumajang juga akan kembali diturunkan oleh PGSI Banyuwangi pada Kejurprov tersebut. Mereka adalah Nanda Okta Efendi, Ayub bagus Setiawan, Rohmat Al Wafi dan Tamara Finela.

Karyawanto berharap dengan diturunkannya atlet-atlet tersebut, perolehan medali dari Kabupaten Banyuwangi bisa terus terdongkrok dalam Kejurprov itu. Apalagi rencananya, PGSI akan menurunkan sekitar 24 atletnya pada kejuaraan kali ini. Lebih banyak dari atlet yang diturunkan pada Kejurda di Lumajang.

Untuk mempersiapkan hal itu, cabor juga sudah mulai melakukan pemusatan latihan untuk para atletnya. Yang kebetulan sebagian besar berada di kawasan Kecamatan Muncar. Sehingga para atlet tidak perlu jauh-jauh saat berlatih. “Ada sedikit perubahan komposisi atlet di luar yang empat itu. Karena di kelas ini yang bertanding adalah kelas remaja dan kadet. Dengan usia maksimal kelahiran 2001 dan minimal 2004,” ujarnya.

Selain itu, sebagai cabor yang memperoleh dana pembinaan yang paling besar. Karyawanto mengaku PGSI tak segan memberikan bonus kepada para atlet yang berprestasi. Sehingga mereka terus termotivasi setiap bertanding. “Dua pelatih kita juga selalu siap di pemusatan latihan, jadi kita berani target lebih baik kali ini,” pungkasnya. (*)

Eko Suryono

LEAVE A REPLY